Sepenggal Sejarah Pemikiran IAIN/UIN Ciputat Yang Mungkin Terlupakan

Rd. Mulyadhi Kartanegara
(Sebuah Tanggapan kepada Sdr. Asep Saefullah)

Suatu hari di semester pertama tahun 1985, selepas memberikan kuliah Sejarah Filsafat Islam di salah satu kelas Fakultas Ushuluddin IAIN Ciputat, sekitar 5 mahasiswa mendekati saya di sebelah utara Auditorian Prof. Harun Nasution. Mereka menyatakan keinginannya untuk mengadakan semacam forum diskusi khusus untuk mereka di luar kuliah resmi di kelas. Saya tanya kenapa? Mereka jawab, kami sangat haus pada Kajian Filsafat Islam, dan itu tidak bisa didapat dari kuliah resmi saja.

Saya kemudian menyetujui permintaan mereka dengan syarat, bahwa mereka akan saya anggap telah menguasai Sejarah Filsafat Islam dengan cara mempelajarinya sendiri, sebab kata saya saat itu, topik-topik yang kita akan bahas dalan forum duskusi ini bukan lagi tentang Sejarah Filsafat Islam, tetapi topik-topik filosofis tertentu yang melampaui sekedar kajian historis. Syarat berikutnya adalah kesanggupan dan kesediaan mereka untuk secara bergiliran menyajikan paper sesuai dengan topik-topik yang nantinya ditentukan, tentunya di luar tugas resmi fakultas. Mereka setuju dengan syarat yang saya ajukan. Tinggal lagi kami memberikan nama forum ini, dan setelah diskusi beberapa saat, akhirnya kami setuju memberikan nama forum ini dengan RESPONDIO.

Maka hari itu RESPONDIO telah didirikan, dengan anggota sebagai berikut: saya sebagai pendiri dan pembimbing diskusi dan, sebagai anggota tetapnya adalah (yang masih saya ingat): Saiful Mujani, Ali Munhaif, Ade Komaruddin, Nanang Tahqiq, Imron Rosyadi, Helmi Hidayat, Kamal Muchtar, Ilham Masykuri, Lily Fakhriyah dan beberapa mahasiswi lainnya. Tempat berkumpul kami pada saat itu adalah tempat kostan saya di Jalan Pemda No. 95, Jalan Kerta Mukti (kemudian dikenal dengan nama Pondok Molek (mobil jelek). (Di sini juga tinggal sahabat saya Alm. Nurul Fajri, Tasyudi Yanto dan juga Muhammad Abdurrahman Fachir, sekarang Wakil Menteri Luar Negeri).

Dua minggu kemudian diskusi pertama diselenggarakan. Saya tidak tahu persis siapa yang duluan, tetapi topik yang masih saya ingat adalah tentang rasionalisme oleh Saiful Mujani dan tentang Filsafat Musik oleh Nanang Tahqiq. Tempat di mana diskusi diselenggarakan berbeda-beda. Kadang di halaman rumout yang luas dan asri dari Wisma Jabar, sebelah selatan ISCI dan sebelah utara FISIP UIN. Kadang juga diadakan di pulau Situ Gintung, di sebelah utara masjid PASKA Pisangan. Sambil memandang indahnya pemandangan situ Gintung, kami menyelenggarakan diskusi yang cukup serius tapi juga oenuh canda, dengan sekali-kali menyantap makanan ringan yang biasa disediakan oleh Lily Fakhriyah. Tetapi kalau cuaca mendung atau hujan, maka diskusi diselenggarakan di tempat kosan saya.

Demikianlah diskusi berjalan seperti itu selama kurang lebih lima bulan, sampai akhirnya terpaksa berhenti karena kepergian saya ke Amerika untuk melanjutkan kuliah S2, di University of Chicago (UC). Sepeninggalnya saya ke Amerika, Ade Komaruddin sering mengabarkan kelanjutan forum ini dengan mengatakan bahwa diskusi dilanjutkan dengan bimbingan Alm. Nurul Fajri dan juga Zainun Kamal. Tetapi hanya bertahan sekali dua kali saja, keluh Ade Komaruddin pada saya, dan setelah itu berhenti karena gak ada yang, dengan telaten, membimbing mereka.

Dua tahun setengah saya menempuh pendidikan master saya di UC, dan selama masa itulah saya kemudian tahu bahwa RESPONDIO kemudian terpecah menjadi dua: FORMACI (Forum Mahasiswa Ciputat) di bawah pimpinan Saiful Mujani dengan orientasi filsafat-nya dan RESPONDIO 2, di bawah pimpinan Ade Komaruddin, dengan orientasi politik-nya.

Sepulang dari Chicago, selepas menyelesaikan program master saya, sebelum melanjutkan program doktor saya, saya tidak sempat diundang ke FORMACI, tetapi sekali saya diundang ke RESPONDIO 2 oleh Ade Komaruddin berkedudukan si Situ Kuru, suatu forum yang didominasi oleh mahasiswa Sunda dan Madura. Dan kalau tidak salah, syarat untuk menjadi anggota RESPONDIO 2, adalah bahwa mereka sudah pernah menulis di media. Pada saat itu AKOM meminta saya untuk menjadi salah satu pembina untuk forumnya, yang saya setujui dengan senang hati.

Pada bulan September 1990, saya kembali lagi ke UC untuk meneruskan kuliah doktor saya di sana yang saya selesaikan pada awal tahun 1996. Tidak banyak informasi yang saya dapatkan selama masa itu, kecuali kunjungan Ali Munhanif ke Chicago untuk menjajaki kemungkinan meneruskan kuliah Ph.D di UC setelah menyelesaikan masternya di McGill University, Canada.

Baik Ade Komaruddin maupun Saiful Mujani hampir tak pernah mengabarkan apapun kepada saya. Tetapi kemudian saya tahu bahwa dua orang ini menjadi tokoh Nasional: Saiful Mujani dikenal dengan SMRC (Saiful Mujani Research & Consultancy) dan Ade komaruddin terus melejiit di karir politiknya dan mencapai puncaknya sebagai Ketua DPR RI. Ali Munhanif meneruskan karir intelektualnya di PPIM dan Nanang Tahqiq di Fakultas Ushuluddin dan Lily Fahriyah di karir administrasinya di UIN, sedangkan Imron Rasyadi menurut kabar burung telah menjadi seorang bisnisman yang cukup maju.[]

_______________________________________________

Sumber: Akun Facebook Mulyadhi Kartanegara, pukul 0:11 · Bandar Seri Begawan, Distrik Brunei-Muara, Brunei Darussalam